Sejarah

Menurut riwayat sejarah berdirinya paguyuban di kampung Gamelan, pada tahun 1928 s.d.1933 dirintis sebuah cikal bakal paguyuban dan diketuai oleh Rama Sukardjo dan Sekretaris oleh Rama Santosapura, dimana pada masing–masing gang memiliki sebuahKomisariat, usaha sosial yang dapat diwujudkan pada saat itu adalah pengadaan Kerandha Mayat atau Bandhosa. Jauh sebelum ada RK dan Paguyuban Catur Warga Gamelan paguyuban perintis ini berkembang sesuai dengan irama jamannya, yaitu bergerak dibidang seni sastra, tari dan kebudayaan.

Bahkan dari kampung ini mampu membentuk suatu komunitas yang melahirkan tokoh sastra, tari, macapat, dengan tokoh legendaris seperti misalnya Den Be Cakil (tokohjogedwayangwong), Den Bekel Tembong (pada awalnya mereka adalah abdi dalem oceh-ocehan yang memiliki kecerdasan humoris yang akhirnya aktifitas ini menjadi cikal bakal dagelan Mataram), warga Rukun Kampung Gamelan selain menjadi abdi dalem Kraton juga sebagai seorang pejuang kemerdekaan (pada kurun 1940 –1945), sebagaimana terlampir.

Pejuang Revolusi Kemerdekaan RI 1945 –1949, RK Gamelan, Panembahan, Kraton, Yogyakarta


NDalem KRT Danoedipoero, Jalan Gamelan Kidul No. 1 Sebagai Markas Laskar Pejuang :

  • Tempat untuk berkumpul para pejuang, khususnya warga njero beteng yang menunggu perintah dari Ngarso Dalem Sultan HB IX
  • Dikamuflase dengan Warung Sate “Poeas” sehingga tidak tampak sebagai markas perjuangan
  • Tempat mengolah informasi, strategi dalam rangka Serangan Oemoem, 1 Maret 1949
  • Tujuan Untuk Meraih Kepercayaan kembali kepada dunia internasional bahwa kemerdekaan negara kesatuan Republik Indonesia diakui PBB
  • Membuktikan bahwa Tentara Nasional Indonesia & Rakyat masih solid dan utuh sehingga Dewan Keamanan PBB tetap berpihak kepada Indonesia atas provokasi Belanda yang ingin menggagalkan kemerdekaan RI.


Amanat HB IX Terhadap Perjuangan Kemerdekaan & Pertahanan NKRI :

“Proklamasi kemerdekaan ini tidak akan hanya diucapkan dengan kata kata saja melainkan akan diwujudkan dengan perbuatan. Perbuatan perbuatan untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak hanya ingin dan mau, akan tetapi juga dapat dan tahan memiliki kemerdekaan. Nasib nusa dan bangsa ada ditangan kita, bergantung pada kita sendiri. Maka tiada kecualinya kita harus bersedia dan sanggup mengorbankan kepentingan masing masing untuk kepentingan kita bersama ialah menjaga, memelihara dan membela kemerdekaan Nusa dan Bangsa” (In memorian HB IX, SO 1 Maret 1949, SESKOAD, 1989)


Fase Fase Perjuangan sebagai Latar Belakang Munculnya Serangan Oemoem, 1 Maret 1949 :

  • Proklamasi Kemerdekaan Merupakan Puncak Perjuangan sejak Penyerbuan Sultan Agung ke Batavia, Perang Padri oleh Imam Bonjol, Perang Diponegoro 1825 –1830, dll
  • Dilanjutkan Gerakan Boedi Oetomo, 20 Mei 1908; Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928; dll
  • Perjuangan Kotabaru, 6 –7 Oktober 1945 (Perebutan Senjata & kekuasaan dari tangan tentara Jepang).
  • Perpindahan Ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta, 4 Januari 1946
  • Agresi Militer I (Clash I), Van Mook 21 Juli 1947
  • Agresi Militer II (Clash II), 19 Desember 1948


Peran Hamengku Buwono IX sebagai Inisiator SO 1 Maret 1949 :

  • Sebelum Serangan Oemoem dilaksanakan, ada cerita bahwa Pak Harto dipanggil masuk kraton oleh Sultan HB IX
  • nDalem Notoprajan adalah saksi sejarah bahwa sebelum Pak Harto bertemu Sultan HB IX, transit & istirahat di nDalem (Kamar Pak Harto masih dijaga & dirawat oleh Keluarga/Ahli Waris BPH Hadiwijoyo)
  • Pak Harto dari nDalem Notoprajan masuk kraton melalui nDalem Probeyo melewati jalan sempit yang bernama margoleno (belakang probeya ke kraton) diirit poro sentono dalem saat itu (BPH Prabuningrat) dan pak Selo Sumarjan (penewu/camat Pengasih Kulonprogo).
  • Dikuatkan oleh tetenger Serangan Oemoem oleh pak Ch Marsoedi (birgjen Purn, berupa batu prasasti di barat Masjid Rotowijayan, Kraton, Yogyakarta dengan ketua panitia Budi Hartono SH (Ketua LBH Yogyakarta)


Hierarkhi Komando atas dasar perintah panglima besar Soedirman, 25 Maret 1948 :

  • Dibentuk Resimen 22 dibawah Divisi III pimpinan Kol Bambang Soegeng
  • Dibentuk Empat Brigade dan masing masing brigade ada empat batalyon
  • Guna melaksanakan Perintah Panglima Divisi III No 1/HD/1948, 26 Desember 1948 menetapkan komandan Brigade 10 menjadi Komandan Wehrkreisse III (kantong2 perjuangan) dengan komandan Letkol Soeharto.
  • Lalu dibentuk sub sub wehrkresse yang bermarkas di segoroyoso bantul, didukung staff komando gerilya wehrkreisse III terdiri Staff A Komando Pasif (mayor reksosiswo sbg kastaf brigade 10, bermarkas di Pandak Bantul) dan Staff B Komando Aktif/Mobile yang dipimpin oleh letkol Soeharto.
  • Lalu dibentuk sub sub wehrkreisse yang terdiri dari Sub WK 101/kota Yogyakarta dengan komandan Lettu Marsoedi; SWK 102/Bantul, Mayor Sardjono; SWK 103/Gamping, Letkol Soehoed; SWK 103 A/Godean, Mayor Sumual; SWK 104/Sleman, Mayor Soekasno; SWK 105/Gn Kidul, Mayor Soedjono; SWK 106/Kulon progo, Letkol Soedarto.


Fase fase Serangan Omoem :

  • Serangan Oemoem I, 29 Desember 1948, jam 18.00 WIB seluruh pasukan siap bergerak menyerang pos pos Belanda dari pinggir/desa menuju pusat/kota.
  • Tujuan : Adakan Serangan malam; Hancurkan Kekuatan Musuh; Rampas Senjata Musuh; Bumi Hangus tempat strategis musuh.
  • Serangan Oemoem II, direncanakan tanggal 7 Januari 1949 dengan menitik-beratkan a. Serangan Pokok/Hoofdstoot (masuk kota lewat celah2 pos musuh, menghancurkan pos musuh dari belakang); b. Serangan Bantuan/Bijstoot (hancurkan musuh yg diluar kota, merusak jaringan instalasi musuh, serangan langsung, melakukan pembersihan terhadap pihak2 yg membantu musuh); c. Menduduki/Bezetting (Jika menduduki harus membuat garis pertahanan diluar kota utk menjaga serangan balasan dari musuh, menghambat bantuan thd musuh, jika tidak bisa menduduki medan maka bumi hanguskan bangungan bangunan vital milik musuh).


Serangan Oemoem ke III, dilaksankan pada tanggal 16 Januari 1949 dengan strategi mengadakan serangan, penghancuran, penghadangan oleh para komandan sub wk masing masing sesuai perintah sebelumnya; peningkatan perlawanan gerilya disektor kota (SWK I), memobilisasi rakyat untuk mendukung TNI serta melakukan pembersihan terhadap orang orang yang dicurigai memihak musuh (mata mata).

  • Serangan Oemoem ke IV, dilaksanakan pada tanggal 4 Februari 1949 dengan taktik serangan kilat (blitskrieg) sehingga Belanda mengalami shock (turun mental).
  • Serangan Omoem Ke V, dilaksanakan tanggal 1 Maret 1949 lelbih tertata rapi dan menggalang warga melalui Rukun Kampung untuk mengantisipasi segala kemungkinan akibat perang termasuk penyediaan Dapur Umum, Logistik Persenjataan (hasil rampasan), Palang Merah Indonesia, dll.
  • Didesa dibentuk Pager Desa untuk benteng pertahanan
  • Dapur Umum dibawah koordinasi Ibu Ruswo & ibu Kardjo Wadjiah


Laporan Jenderal Spoor (agen rahasia Belanda) terhadap keberpihakan Sultan HB IX dalam Perencanaan Serangan Oemoem, 1 Maret 1949 :

  1. Sehubungan dengan pembicaraan kami dengan JM pada tanggal 26 Februari 1949 di Istana, maka dengan ini kami menghaturkan tiga turunan surat, perihal Sri Sultan yang perlu mendapat perhatian JM.
  2. Dari dokumen dokumen ini ternyata bahwa Sri Sultan tidak ragu ragu memberikan instruksi sebagai berikut :
    • Mengisolisasi tentara Belanda dg cara mengepung (blokade)
    • Melaksanakan kampanye berbisik (gethok tular)
    • Membatalkan pengangkatan atau atau dua lurah “NICA” dari daerah Bantul
    • Melanjutkan Perang Gerilya (dokumen itu diakhiri dengan pekik “tetap berjuang, tetap merdeka”.
  3. Mohon perhatian bahwa peranan Sri Sultan akhir akhir ini makin lama makin besar. Beliau telah menolak ajakan “rakyat Djokja” untuk memberikan petunjuk petunjuk dalam pemerintahan “NICA”, karena Sri Sultan menyatakan bahwa beliau adalah tetap pejabat dari Republik Indonesia..


Tiga sasaran penting, mengapa Serangan Oemoem dilakukan :

  • Yogyakarta adalah ibukota RI, jika dapat direbut oleh TNI beserta Rakyat Indonesia akan berpengaruh besar terhadap pengakuan Kemerdekaan RI oleh Dewan Keamanan PBB.
  • Di Hotel Merdeka banyak wartawan asing dan masih banyak anggota/delegasi UNCI (Komite Tiga Negara) serta pengamat militer dari PBB yang terus memantau perkembangan perjuangan kemerdekaan RI, setelah tanggal 17 Agustus 1945
  • Melaksanakan Perintah Siasat Gubernur/Panglima Divisi III.


Sedangkan masing–masing nama kampung seperti misalnya Mantrigawen adalah tempat tinggal abdi dalem pamong-praja atau kemantren, Gamelan merupakan tempat tinggal abdi dalem yang bertugas merawat kuda, Namburan merupakan tempat tinggal abdi dalem yang memiliki keahlian memainkan tambur dalam gamelan wayang, Siliran merupakan tempat tinggal abdi dalem yang bertugas merawat lampu penerangan atau“silir” demikian juga nama–nama lain seperti Langenastran, Pesindenan, Bludiran, Pakaryan, Ksatrian, Patehan, Nagan, Panembahan, Kadipaten, danlain lain.

Dalam perkembangan jaman, kemudian pada tahun 1950 s.d. 1975 terbentuk lembaga RK, sebagai perpanjangan tangan dari struktur pemerintaha nyang bernama Kemantren, akan tetapi setelah kelahiranUU No. 5/1974 dan struktur pemerintahan kota berubah menjadi RT, RW sebagai perpanjangan tangan pemerintah Kelurahan dan Kecamatan yang dilengkapi dengan adanya Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) pada tingkat Kelurahan

Perubahan struktur tata pemerintahan tersebut mengakibatkan tatanan sosial kemasyarakatan yang tadinya guyub–rukun dalam satu wilayah yang bernama Rukun Kampung Gamelan yang terdiri 14 RT, pada akhirnya terpecah belah menjadi 4 RW dan masing–masing RW terdiri hanya 3 RT – 4 RT, bahkan dengan adanyaLKMD maupun LPMK ternyata belum mampu menyatukan kembali rasa persatuan atau solidaritas sesama warga dalam bentuk guyub–rukun, gotong royong dan tolongmenolong, khususnya dalam hal pralenan. Atas dasar keprihatinan itulah kemudian lahir Paguyuban Catur Warga ex. RK Gamelan dan ternyata mampu bertahan hingga akhir tahun 2002.

Saat ini Undang–UndangNo. 22/1999 mengamanatkan otonomi secara luas dan bertanggung-jawab, padahal denganNo. 22/1948, UU No. 3/1950, UU No. 22/1956 sertaUU No. 18/1965 Daerah Istimewa Yogyakarta sesungguhnya sudah memiliki otonomi yang penuh untuk menyelenggarakan rumahtangganya sendiri sesuai dengan asal-usul wilayah, dimana “aktualisasikeistimewaanDaerah Istimewa Yogyakarta tidak bisa lepas dari perangkat demokrasi dari tingkat propinsi hingga tingkat Kabupaten/Kota, Kelurahan, Desa, Kampung maupunLembaga Musyawarah Desa/RembugDesa(RD) dan Rukun Kampung(RK). Seiring dengan itulah akhirnya pada tahun awal tahun 2003, warga masyaraka tex. RK Gamelan merindukan kembali hadirnya persatuan wargakampung yang tergabung dalam Lembaga Rukun Kampung Gamelan

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa dalam Lembaga Musyawarah Desa, Rembug Desa(RD), Lembaga Rukun Kampung (RK) dapat dirasakan secara nyata dengan ada nyarasa -persatuan, guyub-rukun, gotong–royong, tolong–menolong (Solidaritas, Toleransi, Demokrasi, Partisipasi, dan Swadaya Masyarakat) yang tumbuh secara murni dan lebih riil atas dasar kekeluargaan, patembayan, patembayan, bebrayan agung dalam suasana kehidupan demokrasi yang berdasarkan musyawarah mufakat atau sering diistilahkan “ana rembug dirembug, ana bot-repote disangga bebarengan”.


Susunan Pengurus Paguyuban CaturWargaEx. RK Gamelan 1975 –2002

Ketua Umum : R. SoeryoMoessoemantri.

Ketua/KetuaRW IV: R. Hardono

Ketua/KetuaRW V: R. PoerwandiMangunpradjaBA

Ketua/KetuaRW VI: R. J. WahjudiDirdjokusumo, SH

Ketua/KetuaRW VII: Drs. BambangJaryanta

Sekretaris: Ag. Praptohardjono

Bendahara/Pralenan: R. NicoHarsono

•SeksiWanita: 

    Ibu Purwandi

    Ibu Suryo Moessoemantri

•SeksiPemuda:

    R. JayaNursasongko

    AnggoroAdi

•SeksiPendidikan:

    KRT Winarnohadiningrat

•SeksiPerlengkapan:

    R. Mangkudarmodjo

    Supadi

    Ch. Yatiman

•SeksiMonumen:

    IrSuroyo

    Y. Suwanto


Kelompok Anggota Masyarakat dan Struktur Sosial Dalam Wilayah CaturWargaRK Gamelan :

  • Mantrigawen Lor dengan Paguyuban Pangruktiyasa RW : VII RT: 23 & 24
  • Mantrigawen Kidul dengan Paguyuban Pangruktiyasa RW : VII RT: 21 & 22
  • Gamelan Lor dengan Paguyuban Sedya Rahayu RW : VI RT: 19 & 20
  • Gamelan Kidul dengan Paguyuban MangudiHarja RW: VIRT: 17 & 18
  • Namburan Lor dengan Paguyuban Hambudi Tata RW: V RT: 15 & 16
  • Namburan Kidul dengan Paguyuban Sewelasan RW: V RT : 13 & 14
  • SiliranLordengan Paguyuban WargaSiliran (PWS) RW: IV RT : 11 & 12
  • SiliranKidul dengan Paguyuban Warga Siliran (PWS) RW: IV RT : 09 & 10

Asset tersebut sesungguhnya masih banyak lagi, seperti misalnya jumlah abdi dalem, riwayat kampung, keterkaitan dengan kraton, paguyuban trah, dan masih banyak lagi hal–hal yang perlu diinventarisir, didata, dan dilestarikan kembal iagar tidak dilupakan oleh generasi muda.

Asset paling utama kampung Gamelan adalah kawasan cagarbudaya, kampoeng pejuang’45, sertakampoengwisatayang memilikinilaiekonomisbagiwargamasyarakatnya. Beberapa warga kampung ini pernah berjaya dibidang batik tulis, namun karena pergeseran jaman dan teknologi? akhirnya dunia batik tulis gulung tikar dan produksinya digantikan oleh pabrik kain dengan batik cap.


Nama& Kedudukan Paguyuban Catur WargaEx Rukun Kampung Gamelan :

Paguyuban Catur Warga Rukun Kampung Gamelan yang selanjutnya disingkat dan disebut menjadi RUKUN KAMPUNG GAMELAN, berkedudukan diwilayah RK Gamelan, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Visi/Penjantra:

Rukun Kampung Gamelan adalah organisasi kemasyarakatan atau PaguyubanWarga yang bersifat sosial, swadaya, mandiri dan berasaskan Pancasila, UUD 1945, serta Ajaran Luhur Ngayogyakarto Hadiningrat

Misi/Penjangka:

RukunKampungGamelan adalahorganisasikemasyarakatanatauPaguyubanWargayang memilikimisi:

  • Menjaga kerukunan warga dan solidaritas sosial dalam bentuk kegiatan yang mencerminkan suasana guyub rukun, gotong royong menuju masyarakat yang adem–ayem–tentrem–subur–makmur-kertaraharja. (Menciptakan Harmoni kehidupan yang Aman, Tenteram dan Sejahtera LahirBatin).
  • Menjaga tetap Lestarinya Lingkungan, Nilai, Tradisi, dan Budaya nJeron Beteng.


Tata Organisasi Baru LEMBAGA RUKUN KAMPUNG GAMELAN :

Dewan Kehormatan:

1. Dari Kraton

2. Dari Pakualaman

3. Dari Pemerintah


Sesepuh/Penasehat:

1. R. SuryoMoessoemantri

2. KRT. H. Winarnodiningrat

3. KRT. H. Kawendrodipuro(R.H.Purwandi)

4. Ir. Suroyo

5. R.J. WahjudiDirdjokusumoSH


Ketua Paguyuban RK: Drs. DjokoWintolo, DEA

Wakil Ketua Paguyuban: H. HeruWahyukismoyo

Sekretaris Paguyuban: Hadiwarno, BA

Wakil Sekretaris: Retno Purwantini

Bendahara: HM JazuliErfanSH

Wakil Bendahara: Suharto

Ketua Seksi Pemuda& OR: YuliSuwanto

Wakil Seksi Pemuda& OR: Sugiri

Ketua Seksi Kewanitaan: EndangMulatsih

Wakil Seksi Kewanitaan: Nana Suryo

Ketua Seksi Seni& Budaya: Drs. Suharto (ISI)

Wakil Seksi Seni& Budaya: Purwanto(Pak RT)

Ketua Seksi Lingk Hidup& Kes.: Ny.SuryoPratopo


Program Kerja:

Kehidupan masyarakat nJeron Beteng merupakan potensi yang perlu digali dan diinventarisir kembali, khususnya dibidang ekonomi, pariwisata dan budaya. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka mempersiapkan ketahanan masyarakat nJeronBeteng di era globalisasi, khususnya menjaga kerukunan antar warga, menjaga kelestarian budaya dan lingkungan agar tetap dinamis dan harmonis (aman, tertib, sehat, sejahtera dan bahagia secara lahir–batin) dalam memasuki era pasar bebas.

  • Program KerjaJangkaPanjang, berkaitan dengan upaya menjaga kerukunan/keguyuban warga RK, penanaman pohon langka sepanjang beteng, gang & jalandiwilayahRK Gamelan, pelestarian cagarbudaya (Benteng Kraton, Rumah Joglo), inventarisasi potensi ekonomi& pariwisata, konservasi lingkungan (paugeran njeron beteng), pelestarian nilai–nilai tradisi, budaya serta kesenian Ngayogyakarto Hadiningrat serta inventarisasi sejarah, namakampung, tokoh cikal bakal kampung dan potensi warga(SDM) maupun potensi ekonomi(SDE).
  • Program Jangka pendek Sosialisasi Paguyuban WargaGamelan (RukunKampungGamelan) Pelantikan Pengurus pada tanggal17 Agustus2003 serta pembentukan panitia peringatan 17 Agustus2003 dengan berbagai lomba, tirakatan, fair (Gamelan Fair), kesenian, pasar murah maupun kegiatan karnaval, da nlain sebagainya.
  • Program mendesakyang tidak kalah pentingnya adalah penyegaran pengurus paguyuban pada masing–masing gang, sub bagian pralenan-pangruktilaya pada masing–masinggang serta inventarisasi data potensi warga pada masing–masing gang untuk dikelola(SDM) sumber daya manusia dan sumberdaya wilayah(Potensi Ekonomi, Budaya dan Wisata) untuk dijadikan Social Welfare Resourcess(Sumber daya bagi kesejahteraan sosial


Tim Formatur:

(DibentukberdasarkanMusyawarahMufakatDalamForumRapatWarga,27April2003)

1.Bapak Yudrasono,mewakili SiliranLor/Kidul

2.Bapak Djoko Wintolo,mewakili NamburanKidul

3.Bapak Heru Wahyukismoyo, mewakili NamburalLor

4.Bapak HadiWarno, mewakili Gamelan Kidul

5.Bapak Harto,mewakili GamelanLor/Kidul

6.Bapak Giri, mewakili MantrigawenLor/Kidul

7.Bapak Wahjudi mewakili Unsur PengurusLama

8.Ibu Retno mewakili Unsur Keputrian


HIERARKHI & STRUKTUR LEMBAGA RUKUN KAMPUNG, PAGUYUBAN GANG, RW & RT

RANAH BIROKRASI/ADMINISTRASI RANAH PARTISIPASI/DEMOKRASI Garis Perintah/Instruksi Garis Koordinasi/Partisipasi PEMERINTAH KELURAHAN PANEMBAHAN LPMK/LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT KELURAHAN Pengurus RW Rukun Warga Pengurus RT Rukun Tetangga Pemerintah Propinsi Darah Istimewa Yogyakarta Karaton Ngayogyakarto Hadiningrat Pemerintah Kota Yogyakarta (Paguyuban Warga) Rukun Kampung Gamelan Paguyuban Warga Masing-masing Gang Lembaga Donor (Funding) Anggota Masyarakat Catur Warga Gamelan Kelurahan Panembahan Kecamatan Kraton Yogyakarta Musyawarah Gotongroyong Partisipasi Swadaya


Pengelola Bagian Khusus & BadanOtonom

  • BagianPralenan& Pangrukti-laya
  • PengelolaGedungRK Gamelan
  • PengelolaMonumen
  • PengelolaKoperasiCiptoTunggal
  • PengelolaTK Melati
  • dll

Posting Komentar

Komentar baru tidak diizinkan.*